Site icon Kelurahan Dinoyo

SEJARAH DINOYO

Kerajinan Keramik

Keramik

jika ditanyakan, kapan Desa Dinoyo mulai ada ?

Sumber utama keberadaan Desa Dinoyo adalah Prasasti Dinoyo. Prasati Dinoyo ini sekarang di simpan di Musium Gajah, Jakarta, Menjadi milik Negara dibawah kementrian Pendidikan dan Kebudayaan khususnya Dinas Purbakala. Prasati Dinoyo ( istilah yang dipergunakan oleh Dinas Purbakala ) berupa lempengan batu dengan tulisan menggunakan huruf Jawa Kuno. biasanya Prasati menggunakan huruf Pallwa. bedasarkan sumber ini sementara dapat disimpulkan bahwa Prasati Dinoyo usianya lebih muda dibandingkan dengan prasati kerajaan Kalingga atau Mataram Hindu.

Dalam Prasati Dinoyo tertulis CONDRO SENGKOLO ( Kode Tuhan  Saka ) yang berbunyi : NAYANA VASURASA. Jika diartikan adalah tahun 682 Saka atau tahun 760 Masehi .

Beberapa tulisan dalam Prasati Dinoyo tersebut memuat tentang sejarah Kerajaan KANJURUHAN. Isinya anatara lain sebagai berikut:

 

Salah satu cara Agastya yang ada di dalam kawasan Candi Besuki, saat ini yang ada tinggal pondasinya saja. salah satu bukti peninggalan kerajaan Kanjuruhan yang masih ada, sekarang ini adalah Candi BADUT. ( Berada di wilayah kelurahan Karangbesuki, Kecamatan Sukun, Kota Malang ).

Bukti fisik yang lain, bahwa daerah Dinoyodan sekitarnya adalah bekas sebuah kerajaan di temukannya patung Dewa Simha disekitar pasar Dinoyo lama, situs kolam pemandian keluarga raja ( dekat parik kramik Dinoyo ), situs kolam pemandian di kelurahan Telogomas, situs pondasi banguna besardi Kelurahan Mojosari, situs batu mirip Gong besar di kelurahan Telogomas, situs patung emas di sekitar Pasar Dinoyo sekarang.

 

Sejak kapan nama Dinoyo menggantikan nama Kanjuruhan ?

tidak jelas. Dalam sejarah kerajaan Singosari (abad 13) dan Majapahit (abad 15), nama Kanuruhan/Kanyuruhan masih disebut sebut sebagai nama daerah Mandala ( daerah wilayah kerajaan ).

Namun seiring dengan kehadiran EYANG AJI SINGGOMENGGOLO, prajurit Mataram Islam (abad 16), yang diyakini masyarakat Dinoyo sebagai orang dengan istilah tlatha DINOYO.

 

 

  1. Siapa Eyang Aji Singomenggolo

Pada tahun 2004, Ir. Swandi,  penulis buku “Bersih Desa Kelurahan Dinoyo Tahun 2004 “, bersama Drs. Suman sebagai Ketua panitia Bersih Desa, melakukan wawancaradengan salah satu keturunan Eyang Aji Singomenggolo yang bernama bapak SANADI (meninggal bulan Pebruari 2011). Kami kutip sebagai berikut : “Beliau (Bp. SANADI) seorang pensiun Pegawai Pemerintah Kotamadya Malang terhitung sejak tahun 1986 yang layak. Kehidupan beliau biasa bisa saja, bicaranya baik dan layak dipercaya serta tingkah lakunya dalam bermasyarakat patut diteladani serta riwayat hidupnya cukup baik.

Beliau bercerita banyak tentang perjalanan seorang Aji Singomenggolo ini secara lisan, yang dapat diuraikan dalam bentuk tulisan seperti bawah ini..

 

  1. Sejarah Singkat BABAD ALAS Dinoyoejarah

(Dirangkai dengan gaya bahasa bertutur berasal dari legenda dan cerita rakyat )

 

Konon, AJI SINGOMENGGOLO, adalah prajurit PAjang yang lahir di bumi Ponorogo, oleh karena iku, beliau bersama dengan anggota keluarga dan sahabatnya ingin menyingkir dari Pajangmenuju Ponorogo, beliau merasa tidak nyaman dan tidak puas. Bersama tidak kurang dari 150 keluarganya, beliau meninggalkan bumi Ponorogo menuju ke arah timur.

Sampailah rombongan keluarga besar ini di tempat yang masih berwujud semak belukar, bahkan masih berupa hutan belantara. Namun karena dipandang tanahnya sangat sabur maka di putusaknuntuk bertempat tinggal di tempat yang baru ini. Di kemudian hari, tanah ini disebut dengan TLATAH DINOYO. diperkirakan Babad Alas Dinoyo ini dilakukan pada Tahun 1592 Masehi.

 

  1. Beberapa Nama Sahabat dan Kerabat.

 

Nampaknya Eyang Aji Singomenggolom mempunyai anggota keluarga/kerabat dan sahabat yang rata-rata mempunyai kemampuan sebagai prajurit/tentara. (Kebiasaan masyarakat Jawa, menggunakan nama gelar: SINGO, sebagai orang yang mengaku jabatan prajurit/kepala keamanan). Beberapa nama ini mempunyai jabatan kepala wilayah (palang)

 

Exit mobile version